SANGGAR SASTRA UNIVERSITAS PGRI RONGGOLAWE TUBAN

MATA KULIAH PENYUTRADARAAN

 

MATERI I

 A.    Pengertian dan Tipe Sutradara

            Di proses pementasan teater, penanggung jawab proses transformasi naskah lakon ke bentuk pemanggungan adalah sutradara yang merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. Baik buruknya pementasan teater sangat ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun unsur–unsur lainnya juga berperan tetapi masih berada di bawah kewenangan sutradara.

Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat, maka para aktor memerlukan peremajaan pemain. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.

Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan, maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Meskipun demikian, produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen, 1994).

Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap produksinya. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Waluyo, 2001). Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern.

Oleh karena kedudukannya yang tinggi, maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. Oleh karena itu, kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan, yaitu menentukan lakon. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon, menentukan pemain, menentukan bentuk dan gaya pementasan, memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benar-benar siap untuk dipentaskan.

Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakat atau penonton. Meskipun dalam tugasnya seorang sutradara dibantu oleh stafnya dalam menyelesaikan tugas–tugasnya tetapi sutradara tetap merupakan penanggung jawab utama. Untuk itu sutradara dituntut mempunyai pengetahuan yang luas agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang timbul dalam proses penciptaan.

Sebagai seorang pemimpin, sutradara harus mempunyai pedoman yang pasti sehingga bisa mengatasi kesulitan yang timbul. Menurut Harymawan (1993) Ada beberapa tipe sutradara dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:

  1. Sutradara konseptor. Ia menentukan pokok penafsiran dan menyarankan konsep penafsiranya kepada pemain. Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb.
  2. Sutradara diktator. Ia mengharapkan pemain dicetak seperti dirinya sendiri, tidak ada konsep penafsiran dua arah ia mendambakan seni sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot – robot yang tetap buta tuli.
  3. Sutradara koordinator. Ia menempatkan diri sebagai pengarah atau polisi lalulintas yang mengkoordinasikan pemain dengan konsep pokok penafsirannya.
  4. Sutradara paternalis. Ia bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin para anggotanya.Teater disamakan dengan padepokan, sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada sutradara.

B.    Bekal Awal Sutradara

            Sutradara merupakan sebuah profesi dan komitmen sekaligus. Disebut profesi karena kerja seorang sutradara didasarkan atas keahlian, keterampilan, dan kreativitas di bidang teater. Disebut komitmen karena profesi sutradara bukanlah karena penunjukan atau SK sebagaimana sebuah jabatan di organisasi atau intitusi pemerintah. Seorang sutradara merupakan niatan, janji, sikap, dan tanggung jawab untuk berproses kreatif dalam dunia teater sebagai seorang sutradara. Oleh karena itu, seseorang menjadi sutradara bukan karena ditunjuk oleh orang lain, tetapi dia sendiri yang menunjuk dirinya untuk menjadi seorang sutradara.

Sutradara adalah seorang seniman, sebagaimana seniman yang lain, yang berkarya di dunia teater. Dia dinilai, diberi gelar dan status, dan mengaku sebagai sutradara karena karya yang diciptakannya. Apakah dia seorang sutradara yang berkualitas, cerdas, dan kreatif akan dinilai dari karya teater yang disutradarai. Karena itu, sutradara lahir dari sebuah proses pertunjukan teater dan seberapa jauh dia berkomitmen sebagai seorang sutradara.

Karena ia lahir dari sebuah proses berteater, maka sutradara mesti membekali dirinya dengan pengetahuan dan kemampuan di bidangnya itu. Ada beberapa bekal awal yang harus dimiliki seorang sutradara.

  1. Seorang sutradara haruslah memiliki pengetahuan teater. Pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman menjadi seorang pekerja teater sebelumnya, pendidikan, dan membaca. Bisa saja seorang sutradara ketika masih menjadi seorang aktor, bukanlah aktor yang baik. Tetapi karena pengalamannya itu ia memiliki pengetahuan bagaimana berteater yang baik. Atau mungkin ia seorang alumni pendidikan teater lantas menjadi seorang sutradara.
  2. Seorang sutradara haruslah memiliki kemampuan bersastra. Naskah drama yang akan diproses dalam pertunjukan teater merupakan genre sastra. Seorang sutradara mesti menganalisis dan menginterpretasi naskah drama yang akan digarapnya. Penafsiran dan analisis naskah drama merupakan kerja awal sebelum proses penyutradaraan berlangsung lebih lanjut. Untuk itu ia haruslah memiliki kemampuan bersastra untuk itu.
  3. Seorang sutradara haruslah mempunyai konsep. Konsep dalam konteks ini adalah pandangan, keyakinan, dan sikap tentang profesi itu. Konsep itulah yang akan menuntun seorang sutradara untuk menentukan, memikirkan, dan memutuskan apa yang terbaik bagi proses kerja penyutradaraannya. Konsep seorang sutradara adalah sebuah pilihan yang diyakini dan dipandang sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi semua pihak; khususnya bagi dirinya sendiri dalam setiap prosesnya. Tidak hanya seorang sutradara, semua seniman sesungguhnya memiliki konsep kesenimanannya.
  4. Seorang sutradara haruslah memiliki kemampuan manajerial. Sebagai seorang pemimpin, sutradara pada dasarnya adalah seorang manajer. Dialah yang merencanakan, mengkoordinasi, mengevaluasi, mensolusi semua problema, dan mengontrol proses penggarapan pertunjukan teater. Tanpa manajemen yang baik, akan banyak hambatan dan persoalan yang muncul. Untuk itu, ia haruslah memiliki pengetahuan manajemen yang memadai sesuai kebutuhan proses kerjanya.
  5. Seorang sutradara haruslah memiliki pengetahuan sosiopsikologi. Pertunjukan teater di atas panggung merupakan refleksi dari sosial dan psikologis manusia. Akting, karakterisasi, dan sarana panggung merupakan simbol-simbol bermakna kontekstual. Oleh karena itu, pengetahuan sosiopsikologis akan memperkaya wawasan sutradara dalam mempersiapkan sebuah pertunjukan teater.

Banyak cara dan pendekatan yang dapat dilakukan seorang dalam membekali dan mempersiapkan dirinya untuk berproses kreatif sebagai sutradara. Itu semua bagian dari profesi dan komitmennya.

C.    Tugas Sutradara

Sebagai pemimpin kerja kolektif sebuah teater, sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab sebagaimana berikut ini.

1.    Memilih Naskah

Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih naskah. Pertama, naskah yang bagaimana yang akan dipilih untuk digarap. Kedua, pertimbangan apakah sebuah naskah tertentu dipilih. Beberapa jenis naskah yang dapat ditentukan untuk proses penggarapan sebuah pertunjukan teater.

  1. Naskah asli
  2. Naskah adaptasi
  3. Naskah saduran
  4. Naskah terjemahan

Sedangkan dalam penentuan naskah tertentu yang dipilih untuk digarap, seorang sutradara memiliki beberapa pertimbangan.

  1. Naskah yang dipilih bersifat aktual. Acap kali seorang sutradara menghadapi sekian banyak naskah yang harus dipilih. Pertimbangan aktual bisa menjadi alasan untuk memilihnya. Aktual dalam pengertian ini adalah mengangkat persoalan yang sedang hangat dibicarakan. Persoalan yang sedang ramai dibicarakan masyarakat sering kali mendorong seorang sutradara ikut terlibat. Tentunya melalui media pertunjukan teater yang digarapnya. Hal itu sesungguhnya perwujudan dari fungsi sosial karya seni sebagai instiotusi sosial.
  2. Naskah yang dipilih bersifat kontekstual. Kontekstual dalam pengertian ini adalah mengangkat persoalan yang berangkat dari latar belakang sosial di mana pertunjukan teater itu berlangsung. Hal ini juga merupakan perwujudan dari fungsi sosial karya seni terhadap masyarakatnya. Di Indonesia banyak tersebar naskah-naskah drama yang ditulis oleh para penulis naskah drama. Tetapi sering kali naskah-naskah tersebut tidak berangkat atau bersumber dari masyarakat. Naskah-naskah terjemahan misalnya, tentunya berlatar belakang masyarakat dari mana naskah drama tersebut berasal. Di Indonesia naskah tersebut tidak kontekstual lagi meskipun ceritanya cukup menarik. Diperlukan adaptasi untuk itu.
  3. Naskah yang dipilih memiliki kekuatan dramatik. Naskah drama dipilih untuk dipentaskan di atas panggung. Apa yang terjadi di atas panggung merupakan peristiwa dramatik yang mampu mensugesti dan menarik perhatian penonton untuk menghayati, memikirkan, dan mengimajinasikannya. Naskah yang memiliki kekuatan dramatik menjadi modal untuk membangun peristiwa dramatik di atas panggung. Meskipun dibutuhkan elemen yang lain untuk itu, tetapi kekuatan dramatik yang telah dimiliki oleh sebuah naskah akan menjadi sumber dan pedoman bagi sutradara dan crewnya. Kekuatan dramatik itu dapat berupa tema, alur dan adegan, dialog, atau cerita.
  4. Naskah yang dipilih sesuai dengan konsep sutradara. Pada sub-bab tentang bekal awal sutradara di atas dikemukakan tentang konsep yang dimiliki oleh seorang sutradara sebagai seorang seniman. Sebagai seniman, seorang sutradara memiliki pandangan, keyakinan, dan sikap tentang profesinya  itu. Konsep itulah yang akan menuntun seorang sutradara untuk menentukan, memikirkan, dan memutuskan apa yang terbaik bagi proses kerja penyutradaraannya. Konsep inilah yang kemudian menjadi pertimbangan untuk memilih naskah drama yang akan digarap.

2.    Analisis Naskah

Naskah drama merupakan salah satu sumber bagi sutradara dan semua crew yang terlibat untuk diproses ke atas panggung. Oleh karena itu, naskah drama perlu digali dan ditafsirkan untuk memperoleh bahan dalam proses mempersiapkan pertunjukan teater. Seorang aktor membutuhkan pemahaman tentang peran yang harus dimainkan. Seorang penata panggung membutuhkan pemahaman dari sudut pandangnya sebagai seorang yang bertugas di bidangnya itu. Demikian juga crew yang lain. Untuk itu diperlukan analisis naskah. Dalam hubungannya dengan sutradara, analisis naskah drama dilakukan dalam kaitannya dengan: tipe lakon, premis, plot atau alur, unity, struktur dramatik, struktur lakon, penokohan, bahasa, setting atau latar, dan gaya lakon (lebih lanjut baca bab IV).

3.    Memilih Pemain dan crew yang lain

Menurut Santoso dkk. (2008), pemilihan pemain (casting) dilakukan sutradara dengan mempertimbangkan faktor fisik dan kecakapan.

 

  1. Fisik

Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan peran. Biasanya, dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat, misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan, penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama.

1).  Ciri Wajah. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias, tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. Misalnya, dalam cerita Kabayan, maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol.

2).  Ukuran Tubuh. Dalam kasus tertentu, ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah peran. Misalnya, dalam wayang wong, tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk), maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus.

3).  Tinggi Tubuh. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Tokoh Werkudara (Bima) harus diperankan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek, karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan.

4).  Ciri Tertentu. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Misalnya, dalam ketoprak, seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan peran pendeta. Seorang yang memiliki kumis, janggut, dan brewok tebal cocok diberi peran sebagai warok atau jagoan.

 

  1. Kecakapan

Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Meskipun dalam khasanah teater modern, sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung.

1).  Tubuh. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain, maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan.

2).  Wicara. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan, diksi, intonasi, dan pelafalan yang baik. Dengan memberikan teks bacaan tertentu, calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya.

3).  Penghayatan. Menghayati sebuah peran berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter peran dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Untuk menilai hal ini, sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Calon aktor, harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda.

4).  Kecakapan lain. Kemampuan lain selain bermain peran terkadang dibutuhkan. Misalnya, seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari, menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama, tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. Untuk itu, portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara.

D.   Proses Penyutradaraan

            Proses penyutradaraan merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh seorang sutradara dalam memimpin dan mempersiapkan pertunjukan teater. Berikut ini dikemukakan langkah-langkah tersebut yang biasa dilakukan oleh sutradara di Indonesia.

  1. Memilih Naskah
  2. Menganalisis Naskah
  3. Menyusun Desain (Konsep) Pertunjukan
  4. Mendiskusikan Naskah dan Desain Pertunjukan
  5. Reading
  6. Casting
  7. Blocking
  8. Menghidupkan Peran
  9. Geladi Kotor

10. Geladi Bersih

11. Evaluasi